Minggu, 15 Maret 2009

Kesalahan Fatal pada Istilah “Senior Tidak Pernah Salah”

Berbagai kasus kekerasan terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, mulai dari kalangan dewasa hingga remaja yang tergolong masih para pelajar. Fenomena ini menjelaskan adanya degresi terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Fokus pemberitaan sekarang ini adalah tindak kekerasan yang melibatkan para pelajar . Banyak dari mereka yang merupakan pelajar tingkatan menengah dan tinggi, seperti SMP, SMA, hingga Perguruan tinggi. Bagaimana degresi moral bisa terjadi di kalangan terpelajar yang nantinya akan menjadi penerus kegiatan pembangunan nasional bisa terjadi? Hal ini harus menjadi tanda tanya besar bagi kita.

Sebagai contoh, banyak tawuran yang terjadi di kalangan pelajar SMA. Buruknya tawuran pelajar juga terjadi di sekolah-sekolah favorit yang ada di kota-kota besar. Hebatnya baru-baru ini sebuah perguruan tinggi negeri besar yang memiliki segudang prestasi baik nasional ataupun internasional, telah kehilangan seorang mahasiswanya akibat kekerasan selama ospek. Selain itu, sekolah-sekolah kedinasan juga memiliki track record “hebat” dalam adu fisik. Hal itu tercermin dari banyaknya sekolah kedinasan yang memberikan sumbangsih gugurnya para “pejuang” yang seharusnya memberikan potensinya bagi pembanguan nasional kelak

Fenomena yang sungguh miris sekali. Kita harus menyadari bagaimana sebuah tindak kekerasan juga telah berakar hingga ke dunia pendidikan Indonesia. Kata “Senior” di dunia pendidikan memiliki arti yang sangat ambigu. Sebuah jargon “Senior tidak pernah salah” merupakan suatu kesalahan fatal yang terus bergulir di dunia pendidikan Indonesia.

Bila kita bandingkan dengan di Amerika Serikat bagaimana pendidikan bisa berkembang dengan baik. Ada hal mendasar yang harus diadaptasi, yaitu tidak adanya istilah “Senior tidak pernah salah” ataupun istilah-istilah sejenis lainnya. Oleh karenanya koreksi dapat berlangsung secara aktual, baik dari yang lebh tua ataupun yang lebih muda. Jadi tidak ada pembenaran terhadap segala macam kesalahan yang ada.

Istilah semacam ini bisa saja menjadi awal dari segala bentuk kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Dengan adanya jargon tersebut maka para junior akan merasa bahwa walaupun tersiksa dengan keadaan tersebut nantinya mereka akan dapat membalas semua itu kepada para junior selanjutnya. Pembodohan melalui jargon-jargon semacam ini yang menghantarkan pupusnya nilai-nilai moral para penerus pembangunan Indonesia. Sebuah pembodohan yang sangat mendasar dan fatal bagi pendidikan Indonesia pada khususnya dan aspek masyakat luas pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar